top of page

Mengenal Sang Pendiri

Soedarisman Poerwokoesoemo adalah tokoh pendidikan di Yogyakarta yang berperan dalam pendirian Perguruan Tinggi Janabadra pada akhir 1950-an. Ia memiliki komitmen kuat terhadap pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat. Nama Janabadra berasal dari bahasa Sanskerta, jnana (ilmu) dan bhadra (kebaikan), yang melambangkan ilmu pengetahuan yang membawa kemuliaan bagi manusia. Soedarisman memandang pendidikan sebagai sarana membangun martabat bangsa dan membentuk manusia berilmu serta berbudi luhur. Salah satu pesan terkenalnya adalah “aja nganti anake wong ora duwe ora bisa sekolah” yang menegaskan bahwa anak dari keluarga kurang mampu harus tetap mendapat kesempatan belajar. Nilai tersebut menjadi semangat dasar pendidikan di Janabadra hingga sekarang.

sudarisman-9_edited.png
Soedarisman.webp

Soedarisman Poerwokoesoemo

 

Soedarisman Poerwokoesoemo merupakan salah satu tokoh pendidikan dan pejuang intelektual di Yogyakarta yang memiliki peran penting dalam lahirnya lembaga pendidikan Janabadra. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan pendidikan bagi masyarakat luas, terutama bagi mereka yang kurang mampu.

​

Soedarisman Poerwokoesoemo hidup pada masa ketika akses pendidikan tinggi masih sangat terbatas. Dalam pandangannya, pendidikan adalah sarana utama untuk meningkatkan martabat manusia dan membangun kemajuan bangsa. Karena itu, ia bersama beberapa tokoh lain menggagas pendirian lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi Perguruan Tinggi Janabadra di Yogyakarta pada akhir tahun 1950-an.

​

Nama Janabadra sendiri dipilih karena memiliki makna filosofis yang mendalam. Berasal dari bahasa Sanskerta, kata jnana berarti ilmu atau pengetahuan, sedangkan bhadra/badra berarti kebaikan atau kemuliaan (nama seorang pujangga atau intelektual Jawa pada masa klasik, D’nanabadra). Dengan demikian, Janabadra dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang membawa kebaikan dan kemuliaan bagi manusia. Nilai tersebut selaras dengan visi Soedarisman Poerwokoesoemo yang memandang pendidikan bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi juga untuk membentuk manusia yang berbudi luhur.

​

Dalam kiprahnya sebagai tokoh pendidikan, Soedarisman dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Salah satu pesan pendidikan yang sering dikaitkan dengan beliau adalah ungkapan Jawa:

​

“Aja nganti anake wong ora duwe ora bisa sekolah.”

​

Ungkapan ini dapat dimaknai sebagai tekad moral bahwa anak-anak dari keluarga yang kurang mampu tidak boleh kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Bagi Soedarisman, pendidikan harus menjadi jalan untuk membuka kesempatan hidup yang lebih baik bagi semua lapisan masyarakat.

​

Semangat tersebut kemudian menjadi salah satu nilai dasar dalam pengembangan Janabadra: pendidikan yang inklusif, membangun karakter, dan berpihak pada masyarakat. Melalui gagasan dan perjuangannya, Soedarisman Poerwokoesoemo dikenang sebagai tokoh yang tidak hanya memperjuangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memperjuangkan keadilan dalam akses pendidikan.

​

Warisan pemikirannya tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam upaya menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, berilmu, dan bermartabat. Pesan sederhana yang beliau sampaikan menjadi pengingat bahwa tujuan utama pendidikan adalah membuka jalan bagi setiap anak bangsa untuk belajar dan berkembang, tanpa terkecuali.

​
bottom of page